Eddy Sumarna Blog

Artikel Pariwisata

PENGEMBANGAN KAWASAN OBSERVATORIUM BOSSCHA DAN SEKITARNYA December 30, 2010

Filed under: Uncategorized — eddysoemarna @ 5:53 am

I. LATAR BELAKANG

Observatorium Bosscha memiliki peran penting dalam beberapa hal. Pertama, dari segi ilmu pengetahuan, berperan sebagai salah satu observatorium yang mengumpulkan data perihal benda-benda langit di belahan bumi selatan. Kedua, Obs. Bosscha memiliki makna sejarah yang berharga bagi bangsa Indonesia yang telah ditetapkan menjadi cagar budaya nasional melalui peraturan perundangan (salah satunya adalah UU No. 5/ 1990 tentang Benda Cagar Budaya dan PP No. 10/ 1993 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Benda Cagar Budaya. Dalam tahap pengembangan selanjutnya, Obs. Bosscha akan dijadikan sebagai Space Science Center (SSC). Pengembangan SSC diharapkan mampu mendorong pemanfaatan observatorium secara lebih optimal dan mendukung penumbuhan minat terhadap ilmu pengetahuan di kalangan masyarakat luas.

Dicermati dalam konteks lingkungan eksternalnya, Obs. Bosscha berada di Kawasan Bandung Utara (KBU) yang berfungsi sebagai kawasan resapan air, seharusnya dapat merupakan suatu keuntungan. Dengan adanya pengendalian perkembangan di KBU, yaitu melalui berbagai perangkat kebijakan, Obs. Bosscha seharusnya turut terlindungi fungsinya. Pada dasarnya, pengembangan KBU memang harus dikendalikan, bukan untuk kepentingan Obs. Bosscha semata, melainkan Kawasan Lembang secara umum.

Pada saat ini, pertumbuhan kegiatan yang pesat di Kawasan Lembang telah menimbulkan alih fungsi lahan yang intensif. Kegiatan permukiman semakin mendekat ke areal observatorium yang menimbulkan kerusakan lingkungan sekitar. Disamping itu, perkembangan berlangsung kurang terkendali; dan sampai saat ini belum ada pengaturan yang memiliki ketetapan hukum perihal pengembangan lahan di sekitar observatorium Infrastruktur yang dibangun lebih diupayakan untuk mendukung keberadaan permukiman, yang jelas meningkatkan ancaman terhadap fungsi observatorium maupun konservasi (misalnya: dengan meningkatnya potensi run-off di Cekungan Bandung).

Peningkatan polusi udara oleh emisi kendaraan bermotor dan pembakaran sampah, polusi cahaya oleh kegiatan permukiman (lampu penerangan rumah), polusi cahaya oleh lampu kendaraan dan billboard komersial, dan polusi getaran oleh lalu lintas kendaraan merupakan beberapa ancaman terhadap fungsi observatorium. Selain itu, fungsi kawasan sebagai kawasan cagar budaya dan sebagai kawasan konservasi seharusnya ditegakkan. Hal ini juga menunjukkan bahwa penetapan sebagai cagar budaya tidak serta merta menyelesaikan persoalan yang mengganggu kelestarian fungsi cagar budaya maupun konservasi kawasan.

Selain kegiatan bermukim, kegiatan lain yang berkembang pesat di Kawasan Lembang adalah pariwisata. Belum jelasnya konsep pengembangan pariwisata yang sesuai bagi kawasan observatorium dan sekitarnya diperkirakan turut memberikan andil terhadap gangguan fungsi observatorium. Tekanan yang besar muncul dari pengembang swasta yang melihat peluang keuntungan dari pengembangan kawasan di sekitar observatorium sebagai lokasi wisata. Sementara itu, pemerintah daerah ditantang untuk segera mengambil keputusan apakah pembangunan fisik untuk berbagai jenis kegiatan prospektif (dalam hal ini pariwisata), selain konservasi alam maupun cagar budaya, bisa diterima atau tidak.

Salah satu gagasan awal yang muncul yang terkait dengan lingkungan eksternal Obs. Bosscha adalah pengembangan kawasan wisata yang memperhatikan kelestarian lingkungan alami (ekowisata). Konsep awal ini diyakini dapat mengurangi perubahan bentang alam yang kian mengancam keberadaan dan fungsi observatorium maupun fungsi kawasan sebagai kawasan konservasi. Dalam prosesnya, masyarakat merupakan komponen yang perlu didengarkan pendapatnya. Dalam kenyataannya, masyarakat turut memiliki andil terhadap perubahan bentang alam, terutama bagi kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah lahan yang dimiliki. Pengaturan yang sifatnya melarang kegiatan di sekitar observatorium menutup peluang bagi pengembangan ekonomi masyarakat lokal yang merupakan komponen penting dalam pengelolaan kawasan yang dilindungi (protected area). Oleh karena itu, apa dan bagaimana konsep perencanaan dan pengembangan ekowisata ini? Hal ini juga memerlukan sosialisasi bagi dan dilakukan diskusi dengan berbagai kelompok yang berkepentingan.

II. TUJUAN DAN SASARAN KEGIATAN

Tujuan pelaksanaan kegiatan ini adalah pengembangan gagasan bagi konsep pengembangan Space Science Center dan kawasan ekowisata di Obs. Bosscha dan sekitarnya melalui forum komunikasi/diskusi. Kegiatan ini mengikutsertakan berbagai para pemangku (stakeholder) yang terkait dengan perkembangan kawasan pada masa mendatang, diantaranya: pemerintah daerah dari tiga kabupaten/kota dan pemerintah desa, masyarakat sekitar, pengembang swasta, dan ITB sebagai pengelola observatorium. Hasil akhirnya berupa rumusan konsep dan hasil rancangan pengembangan.

Harapannya adalah tercapainya sasaran kegiatan, yaitu:
1. Tercapainya kesepahaman tentang permasalahan pengendalian pemanfaatan ruang di Kawasan Lembang antarpihak internal dan antarpemangku kepentingan, serta mengubah persepsi masyarakat bahwa pengembangan sekitar Obs. Bosscha
2. Menjembatani komunikasi antara pemerintah daerah, pemilik/pengembangan dalam rangka menjawab (memberi justifikasi) atas pengembangan di sekitar Kawasan Obs. Bosscha dan Lembang pada umumnya;
3. Mengidentifikasi dan mengevaluasi perkembangan dan dampak perkembangan
Kawasan Obs. Bosscha dan sekitarnya;
4. Mengevaluasi unsur-unsur yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata;
5. Mengidentifikasi pelibatan para pemangku kepentingan (stakeholder);
6. Mengidentifikasi peran (role sharing) di antara para stakeholder.

III. MANFAAT KEGIATAN

Manfaat kegiatan ini, yaitu pengembangan gagasan terkait konsep dan prinsip pengembangan bagi kawasan yang termasuk ke dalam protected area (cagar budaya dan konservasi) dan lingkungan sekitarnya, melalui forum komunikasi berbagai pemangku kepentingan. Konsep pengembangan ini nantinya dikaitkan dengan perlindungan terhadap keberadaan objek dan bentang alam yang termasuk ke dalam kategori cagar budaya dan fungsi Obs. Bosscha, selain mendukung konservasi sumber daya air di dalam kawasan.

Dari kajian perihal konsep pengembangan kawasan, dapat dihasilkan menjadi arahan normatif bagi penataan ruang internal maupun eksternal Kawasan Observatorium Bosscha. Konsep ini juga dapat menjadi pertimbangan yang dapat diikuti oleh pengembang (developer) dan masyarakat yang bermaksud menjadikan sekitar kawasan sebagai daya tarik wisata. Selain itu, hasil dari kegiatan ini dapat menjadi pedoman dalam pengambilan Keputusan

 

STUDI EVALUASI PROYEK December 23, 2010

Filed under: Uncategorized — eddysoemarna @ 5:41 pm

1. Pengertian Evaluasi Proyek

Evaluasi Proyek, juga dikenal sebagai studi kelayakan proyek (atau studi kelayakan bisnis pada proyek bisnis), merupakan pengkajian suatu usulan proyek (atau bisnis), apakah dapat dilaksanakan (go project) atau tidak (no go project), dengan berdasarkan berbagai aspek kajian. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah suatu proyek dapat dilaksanakan dengan berhasil, sehingga dapat menghindari keterlanjuran investasi modal yang terlalu besar untuk kegiatan yang ternyata tidak menguntungkan.
Dilihat dari kapan evaluasi dilakukan pada proyek, dapat dibedakan 4 jenis evaluasi proyek:
• Evaluasi terhadap usulan proyek yang akan didirikan (pre-project evaluation);
• Evaluasi terhadap proyek yang sedang dibangun (on-construction project evaluation);
• Evaluasi terhadap proyek yang telah dioperasionalisasikan (on-going project evaluation).
• Evaluasi terhadap proyek yang telah berakhir (post-project evalution study).


2. Hal-Hal yang Perlu Diketahui dalam Evaluasi Proyek

Sebelum dilakukan suatu evaluasi proyek, perlu diidentifikasikan hal-hal berikut:
• Ruang Lingkup Kegiatan Proyek, yakni pada bidang-bidang apa saja proyek akan beroperasi (mission statement of business).
• Cara kegiatan proyek dilakukan, yakni apakah proyek akan ditangani sendiri, atau ditangani juga oleh (beberapa) pihak lain?
• Evaluasi terhadap aspek-aspek yang menentukan keberhasilan seluruh proyek, yakni mengidentifikasi faktor-faktor kunci keberhasilan proyek.
• Sarana yang diperlukan oleh proyek, menyangkut bukan hanya kebutuhan seperti: material, tenaga kerja, dan sebagainya, tetapi juga fasilitas-fasilitas pendukung seperti jalan raya, transportasi, dan sebagainya.
• Hasil kegiatan proyek tersebut serta biaya-biaya yang harus ditanggung untuk memperoleh hasil tersebut.
• Akibat-akibat yang bermanfaat ataupun yang tidak dari adanya proyek tersebut.
• Langkah-langkah rencana untuk mendirikan proyek, beserta jadwal masing-masing kegiatan tersebut.

3. Perbedaan Intensitas Evaluasi Proyek

Tidak setiap proyek akan diteliti dengan intensitas yang sama. Beberapa proyek mungkin
harus diteliti dengan sangat mendalam, dengan mencakup berbagai aspek yang berpengaruh. Beberapa lainnya mungkin cukup diteliti pada beberapa aspek saja. Bahkan ada yang diteliti secara sederhana dan tidak formal.
Beberapa faktor menentukan intensitas studi evaluasi proyek:
a. Besarnya dana yang ditanamkan: semakin besar dana yang ditanamkan, intensitas studi akan semakin mendalam.
b. Tingkat ketidakpastian proyek: semakin sulit memperkirakan penghasilan penjualan, biaya, aliran kas, dan lain-lain, maka biasanya studi evaluasi proyek akan semakin hatihati.
c. Kompleksitas elemen-elemen yang mempengaruhi proyek: semakin kompleks factor factor yang mempengaruhi proyek, semakin hati-hati dan mendalam studi evaluasi proyek tersebut.

4. Lembaga-Lembaga yang Membutuhkan Evaluasi Proyek:
Telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, bahwa kegagalan proyek dapat merugikan: investor, pihak penyedia pembiayaan, pemerintah. Oleh karena itu, mereka lah lembaga lembaga
yang membutuhkan evaluasi proyek.
• Pemilik proyek (investor) dan calon mitra usaha: akan memperhatikan prospek usaha, yakni tingkat keuntungan yang diharapkan beserta tingkat risiko investasi. Biasanya, semakin tinggi tingkat keuntungan diiringi dengan semakin tinggi risiko proyek.
• Pihak penyedia pembiayaan (bank kreditur, perusahaan leasing, perusahaan modal ventura, underwriter bila melalui bursa efek, lembaga kredit ekspor barang modal, dan lembaga donor yang mungkin ikut membiayai proyek): memperhatikan segi keamanan dana yang mereka pinjamkan, karena mereka mengharapkan agar bunga dan angsuran pokok pinjaman dapat dibayarkan tepat pada waktunya. Oleh karena itu, mereka akan memperhatikan pola aliran dana selama jangka waktu pinjaman tersebut.
• Pemerintah: berkepentingan atas manfaat atau dampak dari proyek terhadap perekonomian nasional maupun dampaknya bagi lingkungan dan masyarakat.

5. Dua Jenis Evaluasi Kelayakan
Untuk meminimalkan biaya dan efektifitas kegiatan, evaluasi kelayakan proyek dilakukan dalam dua tahap:
• Evaluasi Pendahuluan (Preliminary study atau Pre-evaluation study) Tujuan Evaluasi Pendahuluan adalah untuk mengetahui faktor-faktor pengambat kritis (critical factors) yang dapat menghambat jalannya operasi bisnis proyek yang akan dibangun. Kemungkinan keputusan dari tahap ini adalah pembatalan rencana investasi, revisi rencana investasi, atau meneruskan evaluasi rencana investasi proyek ke tahap berikutnya, yakni studi kelayakan proyek.
• Evaluasi Kelayakan Proyek (Project Feasibility Study). Fokus utama studi kelayakan proyek paling sedikit terpusat pada empat aspek: (1) aspek pasar dan pemasaran terhadap barang atau jasa yang akan dihasilkan proyek; (2) aspek produksi, teknis dan teknologis; (3) aspek manajemen dan sumberdaya manusia; dan (4) aspek keuangan dan ekonomi.

6. Tahapan-Tahapan Evaluasi Proyek
Evaluasi Proyek dapat dibagi menjadi beberapa tahap:
• Tahap Penemuan ide, yakni penelitian terhadap kebutuhan pasar dan jenis produk dari proyek. Jika terdapat lebih dari satu ide, maka biasanya pengambil keputusan akan dipengaruhi oleh tiga faktor: (1) intuisi bisnis dari pengambil keputusan; (2) pengambil keputusan memahami teknis dari proyek; (3) keyakinan bahwa proyek mampu menghasilkan laba.
• Tahapan Penelitian; yakni meneliti beberapa alternatif proyek dengan berbagai metode ilmiah. Dimulai dengan mengumpulkan data, mengolah data berdasarkan metode yang relevan, menganalisis dan menginterpretasikan hasil pengolahan data dengan alat-alat analisis yang sesuai; menyimpulkan hasil sampai pada pekerjaan membuat laporan hasil penelitian.
• Tahap Evaluasi (Evaluasi Pendahuluan dan Evaluasi Kelayakan Proyek). Evaluasi berarti membandingkan sesuatu berdasarkan satu atau lebih standar atau kriteria, dimana standar atau kriteria ini dapat bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Hal yang diperbandingkan dalam evaluasi kelayakan proyek biasanya adalah manfaat (benefit) dengan seluruh biaya yang akan timbul.
• Tahap Pengurutan Usulan yang Layak. Apabila terdapat lebih dari satu usulan rencana proyek yang dianggap layak, dan bila manajemen memiliki keterbatasan dalam menjalankan proyek-proyek tersebut, maka manajemen dapat menentukan prioritas usulan yang layak berdasarkan kriteria-kriteria pengurutan (ranking) yang telah ditentukan.
• Tahap Rencana Pelaksanaan. Setelah ditentukan rencana proyek mana yang akan dijalankan, perlu dibuat rencana kerja pelaksanaan pembangunan (konstruksi) proyek; mulai dari penentuan jenis pekerjaan, waktu yang dibutuhkan untuk setiap pekerjaan; jumlah dan kualifikasi tenaga pelaksana; ketersediaan dana dan sumberdaya lainnya; kesiapan manajemen, dll.
• Tahapan Pelaksanaan, yakni tahap merealisasikan konstruksi proyek tersebut. Jika proyek selesai dikonstruksi, maka proyek dioperasionalisasikan. Dalam operasionalisasi ini, diperlukan juga kajian-kajian untuk mengevaluasi operasionalisasi proyek. Hasil evaluasi ini dapat dijadikan sebagai feedback bagi perusahaan untuk selalu mengkaji ulang proyek secara terus-menerus.

 

Ruang Lingkup Geografi Pariwisata December 17, 2010

Filed under: Uncategorized — eddysoemarna @ 7:15 am

Pengertian : Geografi, Pariwisata dan Geografi Pariwisata

• Geografi : ilmu yang menguraikan dan menganalisis variasi ruang keadaan permukaan bumi serta umat manusia yang menempatinya.

• Pariwisata : adalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah dan pemerintah daerah.

• Geografi Pariwisata : adalah cabang dari pada bidang ilmu geografi yang mengkaji berbagai hal yang terkait dengan aktivitas perjalanan wisata, meliputi karakteristik destinasi (objek) wisata, aktivitas dan berbagai fasilitas wisata serta aspek lain yang mendukung kegiatan pariwisata di suatu daerah (wilayah).


PANDANGAN GEOGRAFI

• Geografi Mutakhir memastikan arah perkembangan konsep geografi untuk dapat diterapkan pada berbagai lingkugan geografi yang beraneka tingkat perkembangan ekonomi, budaya dan penguasaan teknologi
• Dalam tahapan ini studi geografi dapat berorientasi pada masalah interaksi manusia dengan lingkungan, selain itu juga dapat berorientasi pada studi wilayah, permukaan bumi dipandang sebagai lingkungan hidup dimana manusia dapat memanfaatkan sumberdaya alam
• Potensi dan masalah unsur-unsur geografi sangat bervariatif, sehingga perlu kajian secara spasial dan temporal untuk dapat mengenali watak/sifat wilayah


Peran Ilmu geografi dalam Pengelolaan Tata Ruang

1. Memberikan informasi alokasi pemanfaatan ruang yang ekonomis dan ekologik
2. Memberikan input bagi analisis kelayakan investasi
3. Memberikan arahan pola pemerataan pertumbuhan / perkembangan wilayah
4. Memberikan masukan program penanganan masalah fisik, ekonomi dan sumberdaya manusia
5. Mengarahkan pilihan prioritas penanganan kawasan tertentu berdasarkan kepentingan ekonomi, eksositem dan sumber alam
6. Mengatur pola pemanfaatan tata guna sumber alam, pelestarian lingkungan dan sumber alam
7. Memberikan masukan pembangunan infrastruktur wilayah yang merata
8. Menganalisis kecenderungan perkembangan secara keruangan
9. Memberikan gambaran dampak pembangunan secara keruangan
10.Memberikan alternatif dalam pola pemanfaatan ruang yang sesuai dengan aspirasi berbagai kepentingan

Peranan Mempelajari Geografi Pariwisata

1. Mengetahui dan Memahami karakteristik sumberdaya pariwisata yang ada di setiap wilayah (daerah).
2. Mengetahui dan memahami karakteristik aktivitas para wisatawan berdasarkan pada asal wisatawan dan tempat tujuan wisatanya

KEGIATAN PERENCANAAN PARIWISATA

Dalam kegiatan ini dilakukan pemahaman karakteristik wilayah melalui studi kompilasi data, kemudian dilakukan kegiatan analisis data dan selanjutnya menyusun rumusan rencana disertai penyajian peta-peta dengan cara :
a. Kegiatan Pemahaman Karakteristik Wilayah,dimana data geografi yang diperlukan meliputi :
1) Karakteristik ekonomi wilayah
2) Karakteristik kependudukan/demografi
3) Data sosial kemasyarakatan
4) Karakteristik sumberdaya alam
5) Sumberdaya buatan

Data tersebut dapat diperoleh melalui survei instansional, survei lapangan, interpretasi citra dan peta, sedangkan penyajiannya dapat berupa peta dan tabel disesuaikan dengan skala perencanaan.

Ruang lingkup analisis Daerah Wisata

Analisis daerah (wilayah) Pariwisata yang dapat dilakukan oleh geografi
meliputi :
1. Analisis sistem perwilayahan
2. Analisis sosial kemasyarakatan
3. Analisis geografi
4. Analisis ekonomi
5. Analisis fisik/daya dukung lingkungan
6. Analisis kondisi sarana dan prasarana
7. Analisis struktur dan pola masyarakat
8. Analisis potensi dan sumberdaya alam, buatan manusia

Dalam melaksanakan kegiatan analisis dapat menerapkan rumus-rumus, statistik, analisis peta dan hasil interpretasi citra serta pengolahan data spasial dengan SIG

Perumusan Rencana Pengembangan Destinasi Wisata

Kegiatan perumusan rencana pengembangan destinasi dapat dilakukan pula oleh ahli geografi yang meliputi :
1. Perumusan arahan pemanfaatan ruang dan masalah pembangunan pariwisata
2. Perumusan konsep dan strategi pengembangan destinasi pariwisata
3. Penjabaran konsep dan strategi pengembangan tata ruang wilayah pariwisata

Penyajian informasi rencana tata ruang wilayah wilayah pariwisata dapat diwujudkan dalam bentuk peta-peta hasil rumusan rencana yang diperoleh atas dasar studi kompilasi data dan analisis data wilayah

 

GUNUNG API SEBAGAI DAYA TARIK WISATA December 11, 2010

Filed under: Uncategorized — eddysoemarna @ 3:31 pm

Indonesia sangat beruntung dikaruniai beragam sumberdaya wisata, baik alam maupun budaya, yang dapat dimanfaatkan bagi pengembangan sektor pariwisata. Potensi obyek dan daya tarik wisata alam tersebut beraneka jenisnya dan tersebar di seluruh Nusantara. Obyek wisata pantai, laut, gunung, hutan, sungai, gua maupun air terjun menjadi tujuan wisatawan nusantara dan mancanegara. Potensi budaya seperti tari tarian, upacara tradisional, kerajinan rakyat dan arsitektur tradisional juga menjadi daya tarik wisata di Indonesia.

Khusus untuk keragaman potensi wisata alam, hal ini tidak terlepas dari kondisi geografis dan geomorfologis Indonesia. Sebagai negara kepulauan yang terletak di khatulistiwa, Indonesia memiliki iklim tropis dengan pengaruh musim angina Barat dan Timur. Matahari yang bersinar hampir sepanjang tahun berpengaruh pada kekayaan flora dan fauna yang dimiliki Indonesia. Letak Indonesia pada pertemuan antara sesar Indo-Australia yang bergerak ke arah utara dan bertabrakan dengan sesar Eurosia, menyebabkan patahan dan tumbukan sepanjang barat Sumatera, selatan Jawa Barat dan menerus ke Bali, Nusa Tenggara hingga ke Laut Banda dan Maluku. Selain itu Indonesia berada pada jalur gunung api, memanjang sejauh 7.000 km, membentang dari Pulau Sumatera melalui Pulau Jawa, Bali dan kepulauan Nusa Tenggara, hingga Maluku. Tidak kurang dari 400 buah gunung api dengan 70 diantaranya masih aktif, berada di wilayah tersebut (Sumber: The Human Environment, Indonesian Heritage, 1996).

Gunung Api di Indonesia

Indonesia memiliki potensi gunung api yang cukup tinggi, baik yang masih aktif maupun tidak, termasuk gunung api yang terdapat di dasar laut. Bagi orang awam saat ini gunung api lebih merupakan ancaman bahaya seperti gunung meletus, lahar panas, gempa bumi, maupun ancaman tsunami, meskipun disadari pula bahwa keberadaan gunung api memberikan kontribusi pada kesuburan tanah, bahan galian, panorama alam dan hal-hal lainnya yang bersifat positif.

Gunung Krakatau di Selat Sunda merupakan salah satu contoh gunung api di Indonesia yang terkenal dan telah dikunjungi wisatawan, yang pada umumnya peneliti dan wisatawan minat khusus. Letusan dahsyatnya pada tanggal 27 Agustus 1883 menggegerkan seluruh dunia, yang menyebabkan gunung api di Indonesia ini menjadi sangat terkenal. Letusannya memusnahkan ¾ bagian badan gunung, meninggalkan sisa-sisa yang kemudian dikenal sebagai Pulau Rakata, Pulau Sertung dan Pulau Panjang serta menyebabkan hujan debu dan batu halus di daerah seluas 300.000 km2 dengan radius 150 km2. Suara letusannya terdengar sampai ke Filipina, gelombangnya terasa hingga ke Australia dan bahkan Eropa. Keterkenalan Krakatau bertambah dengan kemunculan Anak Krakatau pada bulan Desember 1927, yang saat ini telah mencapai ketinggian lebih dari 200 meter di atas permukaan laut dan merupakan gunung api yang masih aktif (Festival Krakatau, Lampung, 1994).

Gunung Bromo merupakan gunung berapi lainnya yang menjadi tujuan wisata utama di Jawa Timur. Dengan kaldera pasirnya seluas 10 km2, mendaki ke Puncak Bromo sambil menikmati matahari terbit merupakan daya tarik yang dicari wisatawan. Adanya upacara Kesodo oleh masyarakat suku Tengger setiap tanggal 10 bulan Kesodo menambah daya tarik wisata gunung ini (Diparda Jawa Timur, 1997/1998).

Beberapa gunung api yang juga menjadi obyek wisata terkenal di Indonesia diantaranya adalah Gunung Tangkuban Parahu di Jawa Barat yang terkenal dengan Legenda Sangkuriangnya, Gunung Merapi, Gunung Agung maupun Gunung Tambora. Gunung Kelimutu dengan 3 buah danau kawah yang memiliki tiga warna yang berbeda di Ende, NTT bahkan diangap sebagai salah satu keajaiban alam. Masih banyak gunung api lainnya di tanah air yang juga memiliki keindahan dan daya tarik namun belum dikembangkan sebagai obyek wisata.

Wisata Gunung Api : Potensi dan Permasalahan

Gunung dan pegunungan merupakan salah satu jenis obyek wisata alam yang cukup menonjol dan banyak diminati wisatawan. Selain panorama bentang alam yang indah, udara yang sejuk dan nyaman, beberapa obyek wisata gunung atau pegunungan dapat dicapai wisatawan dengan mudah. Kawasan Puncak di Cianjur maupun Lembang dan Tangkuban Parahu di Bandung misalnya, menjadi tujuan berlibur wisatawan Jakarta dan sekitarnya terutama pada akhir pekan. Kegiatan wisata yang lebih menantang seperti pendakian hingga ke puncak gunung yang ditunjang dengan jalur pendakian yang jelas, juga mulai diminati oleh wisatawan remaja dan mereka yang berjiwa pe-tualangan. Umumnya obyek wisata yang dikembangkan di Indonesia masih mengandalkan pada daya tarik yang dimiliki sumberdaya wisatanya (resource based tourism) dan belum menggali lebih dalam pada segi keilmuannya (knowledge based tourism). Demikian juga dengan obyek wisata gunung api, yang baru memanfaatkan “bentuk fisik” dari suatu gunung api. Padahal diharapkan dari satu kegiatan wisata, wisatawan tidak hanya mendapat manfaat dari segi kesenangan (pleasure) belaka, tetapi juga bisa mendapatkan manfaat keilmuan yang berguna. Hal ini dapat menjadi nilai tambah pada obyek wisata tersebut.

Fenomena gunung api sebagai obyek dan daya tarik wisata alam sebetulnya tidak hanya sekedar menawarkan gunung dengan pemandangan alam dan udaranya yang sejuk, tetapi juga memiliki potensi daya tarik lain. Keberadaan kawah maupun kaldera, sumber air panas yang biasanya berkaitan dengan keberadaan gunung api juga menjadi daya tarik tambahan lainnya. Terlebih jika terdapat adat istiadat / budaya masyarakat setempat, seperti upacara tradisional maupun legenda yang berkaitan dengan gunung api ataupun letusannya.

Selain daya tarik fisik, daya tarik non-fisik seperti pengetahuan tentang gunung api sebetulnya sangat beraneka ragam dan menarik untuk diceritakan pada wisatawan. Proses pembentukan gunung api, sejarah letusan, kegiatan dan aktivitas gunung api hingga terjadinya erupsi dan penanggulangan bahaya akibat letusannya merupakan daya tarik wisata yang bersifat ilmiah. Tempat-tempat pengawasan kegiatan/aktivitas suatu gunung berapi seperti menara pengawas misalnya, juga dapat dimanfaatkan menjadi obyek wisata ilmiah yang menarik, tidak hanya sekedar mengawasi kegiatan gunung berapi tapi juga menceritakan kegiatan dan fenomena alam tersebut kepada wisatawan. Bahkan masyarakat dapat mempelajari fenomena kegunungapian termasuk pencegahan dan penanggulangan bahaya letusan gunung api.

Pemanfaatan potensi gunung api sebagai obyek wisata ilmiah memang masih memerlukan arahan pengembangan yang tepat agar dapat memberikan manfaat keilmuan bagi wisatawan dengan tetap mengawasi aktivitas kegunungapiannya dan mewaspadai kegiatan-kegiatan gunung api tersebut. Dilain pihak, bentuk wisata ilmiah yang tidak atau kurang dikombinasikan dengan segi pleasure saat ini umumnya masih kurang diminati. Motivasi untuk mencari kesenangan dalam berwisata masih mendominasi wisatawan. Obyek wisata yang “terlalu ilmiah” membuat wisatawan merasa seolah-olah “digurui”, dan akhirnya membuat obyek wisata tersebut menjadi tidak populer.

Oleh karena itu diperlukan suatu bentuk pengembangan yang tidak hanya menampilkan bentuk fisik gunung api saja, tetapi juga mengemas potensi wisata gunung api menjadi obyek dan daya tarik wisata yang bersifat rekreatif edukatif yang tetap mengandung unsur rekreasi sekaligus memberikan manfaat keilmuan.

Potensi obyek dan daya tarik wisata gunung api tersebut juga perlu dipadukan dengan obyek wisata jenis lainnya sehingga saling mendukung dan memperkuat daya tarik yang ada. Pengemasan dengan jenis wisata lain atau obyek wisata lain yang telah lebih dahulu populer, bisa menjadi langkah awal untuk mempromosikan jenis wisata ini. Munculnya jenis wisata gunung api juga merupakan salah satu bentuk diversifikasi produk wisata yang menambah kekayaan jenis wisata yang dapat ditawarkan Indonesia, sekaligus membuka segmen pasar wisatawan yang baru.

 

POTENSI PURA PUCAK MANGU – PELAGA December 3, 2010

Filed under: Uncategorized — eddysoemarna @ 7:41 pm

Sejarah Pura Pucak Mangu

Catatan tertulis secara akurat mengenai keberadaan Pura Pucak Mangu sangatlah minim. Hanya ada beberapa petikan lontar yang memuat tentang keberadaan pura ini dan itupun samar. Namun catatan para orang leluhur orang Bali sangat berarti bagi kehidupan masa sekarang dalam rangka mencermati keberadaan pura-pura di pulau Bali yang banyaknya ribuan. Pura Pucak Mangu sudah ada sejak zaman budaya megalitikum berkembang di Bali dengan bukti diketemukannya peninggalan Lingga yang cukup besar. Di tempat inilah I Gusti Agung Putu, pendiri Kerajaan Mengwi, melakukan tapa brata mencari keheningan pikiran setelah kalah dalam perang tanding.

I Gusti Agung Putu pun menemukan jati dirinya dan bangkit lagi dari kekalahannya, terus dapat meraih kemenangan sampai dapat mendirikan Kerajaan Mengwi. Di tempat I Gst. Agung Putu bertapa brata itulah Pura Pucak Mangu kembali dipugar dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan umat Hindu yang terus berkembang. Puncak Gunung Mangu ini memang sangat hening untuk melakukan tapa brata untuk perenungkan diri seperti yang pernah dilakukan oleh I Gst. Agung Putu. Menurutnya, kegagalan bukan untuk disesalkan dan berputus asa, tetapi untuk dijadikan pengalaman serta diambil hikmahnya untuk pelajaran diri selanjutnya. Dengan cara itulah kegagalan dapat diubah menjadi awal kesuksesan.

Dalam peta Pulau Bali nama Gunung Mangu hampir tidak dikenal. Mungkin karena Gunung Mangu ini tidak begitu tinggi. Namun kalau kita baca lontar tentang Pura Kahyangan Jagat nama Gunung Mangu ini akan mudah diketemukan. Nama Gunung Mangu ini disebutkan dalam Lontar Babad Mengwi. Leluhur Raja Mengwi yang bernama I Gusti Agung Putu kalah secara kesatria dalam pertempuran melawan I Gusti Ngurah Batu Tumpeng dari Puri Kekeran. Karena kalah I Gusti Agung Putu ditawan dan diserahkan kepada I Gst. Ngurah Tabanan sebagai tawanan perang. Oleh seorang patih dari Marga bernama I Gusti Bebalang meminta kepada I Gusti Ngurah Tabanan agar dibolehkan mengajak I Gusti Agung Putu ke Marga. Setelah di Marga inilah timbul niatnya I Gusti Agung Putu ingin membalas kekalahannya dengan cara-cara kestria kepada I Gusti Ngurah Batu Tumpeng.
Sebelum membalas kekalahannya, I Gusti Agung Putu terlebih dahulu bertapa di puncak Gunung Mangu tempat Pura Pucak Mangu sekarang. Di puncak Gunung Mangu inilah I Gusti Agung Putu mendapat pawisik keagamaan dengan kekuatan magis religius. Setelah itu I Gusti Agung Putu kembali menantang I Gusti Ngurah Batu Tumpeng bertempur. Berkah hasil tapanya di Gunung Mangu itulah I Gusti Agung Putu meraih kemenangan melawan I Gusti Ngurah Batu Tumpeng dan musuh-musuhnya yang lain.

Gunung Mangu ini terletak di sebelah timur laut Danau Beratan. Gunung ini juga bernama Pucak Beratan, Pucak Pengelengan, dan Pucak Tinggan. Orang dari Desa Beratan menyebut gunung tersebut Pucak Beratan. Sedangkan orang yang dari Desa Tinggan menyebutnya Pucak Tinggan. Karena umat di Desa Tinggan-lah yang ngempon aci-aci di Pura Pucak Mangu tersebut.
Nama Pucak Pengelengan menurut penuturan keluarga Raja Mengwi bahwa saat I Gusti Agung Putu bertapa di Pucak Mangu, Batara Pucak Mangu menulis (ngerajah) lidahnya. Setelah itu I Gusti Agung Putu disuruh ngelengan (melihat keseliling). Mana daerah yang dilihat dengan terang itulah nanti daerah kekuasaannya. Karena itulah Pucak Mangu ini juga disebut Pucak Pengelengan.

Di Pucak Mangu ini terdapat sebuah pura dengan ukuran 14 x 24 meter. Di dalamnya ada beberapa pelinggih dan bangunan yang bernilai sejarah kepurbakalaan. Yaitu sebuah Lingga, dengan ukuran tinggi 60 cm dan garis tengahnya 30 cm. Bahannya dari batu alam lengkap dengan bentuk segi 4 (Brahma Bhaga), segi delapan (Wisnu Bhaga) dan bulat panjang (Siwa Bhaga).
Menurut para ahli purba kala, Lingga ini sezaman dengan dengan Lingga di Pura Candi Kuning. Para ahli memperkirakan penggunaan Linga dan Candi sebagai media pemujaan di Bali berlangsung dari abad X – XIV. Setelah abad itu pemujaan di Bali menggunakan bentuk Meru dan Gedong. Kapan tepatnya Pura Pucak Mangu ini didirikan belum ada prasasti atau sumber lainnya dengan tegas menyatakannya. Dari cerita keluarga Raja Mengwi konon ketika I Gusti Agung Putu akan bersemadi di gunung ini menjumpai kesulitan karena hutannya sangat lebat. Setelah beliau berusaha ke sana-ke mari lalu beliau mendengar suara tawon. I Gusti Agung Putu pun menuju suara tawon itu. Ternyata di tempat suara tawon itu dijumpai reruntuhan pelinggih termasuk Lingga tersebut. Setelah itu kemungkinan pura ini dipugar oleh I Gusti Agung Putu setelah beliau berhasil menjadi Raja Mengwi serta mendirikan Pura Penataran-nya di tepi Danau Beratan.

Nampaknya sampai abad XVIII pelinggih utama di Pura Pucak Mangu adalah Lingga Yoni saja dan bangunan pelengkap lainnya. Setelah pemerintahan I Gst. Agung Nyoman Mayun yang bergelar Cokorda Nyoman Mayun melengkapinya dengan pendirian Meru Tumpang Lima linggih Batara Pucak Mangu. Meru Tumpang Tiga linggih Batara Teratai Bang dan Tepasana tempat Lingga.
Ada juga dibangun Padma Capah sebagai Pengubengan, Pelinggih Panca Resi yang mempunyai lima ruangan yang menghadap ke empat penjuru dan sebuah ruangan berada di tengah, dan bangunan lainnya. Menurut Babad Mengwi, atas perintah Cokorda Nyoman Mayun-lah Pura Penataran Tinggan didirikan tahun Saka 1752 atau 1830 Masehi. Mungkin zaman dahulu menuju ke Pura Penataran Ulun Danu Beratan masih sulit karena keadaan alamnya. Hal itulah barang kali menyebabkan Pura Pucak Tinggan memiliki dua Pura Penataran. Sampai tahun 1896 saat runtuhnya Kerajaan Mengwi tidak ada tercatat dalam sejarah bahwa Pura Pucak Mangu direstorasi. Tahun 1927 akibat gempa yang dhasyat Pura Pucak Mangu ikut runtuh. Pura tersebut baru direstorasi tahun 1934 – 1935. Tahun 1978 terjadi angin kencang lagi yang merusak pelinggih dan bangunan lainnya. Pada tahun itu juga pura tersebut direstorasi kembali.


Letak Geografis

Pura Pucak Mangu terletak di Kabupaten badung sekitar 40 km dari Denpasar yang beriklim normal, curah hujan rata-rata 2135mm pertahun dengan temperature rata-rata 24,2 derajat celcius. Kelemababan rata-rata 92,5 %, dan tekanan rata-rata 1009,6 mm bar dengan penyinaran 65%. Untuk pelestarian maupun pengembangan budi daya kawasan, angka-angka klimatologi sangat diperlukan sebagai dasar kajian analisisnya dari berbagai aspek fisis, chemis dan ekologinya. Pemilihan lokasi pura, pemukiman pedesaan, lahan pertanian dan lahan kehidupan lainnya berbeda dengan nalar sain dan teknologi yang kini dikembangkan. Perwujudan berbentuk arsitektur, pemakaian bahan dan pertimbangan orientasi, dimensi, orientasi, proporsi dan komposisi juga sirkulasi dan sirkulasi dan prosesi. Dan itu juga didasarkan pada angka-angka basement geografi, iklim, geologi, hidrologi dan topografi bentang alam dari lokasi terpilih.

Potensi Pura Pucak Mangu
Adapun potensi yang dimilki oleh Pura Pucak Mangu adalah sebagai berikut :

a. Struktur Bangunan

Pura Pucak Mangu termasuk salah satu kayangan jagat di Bali yang didirikan sekitar tahun 1555 Isaka atau tahun 1633 dengan dua fungsi yaitu sebagai Pura Catur Loka Pala dan Pura Padma Bhuwana. Pura Pucak Mangu seperti layaknya pura pada umumnya di Bali struktur bangunannya didasarkan pada konsep tri mandala yang terdiri dari tiga halaman yaitu jaba sisi ( halaman luar), jaba tengah ( halaman tengah ) dan jeroan ( halaman dalam ) dengan struktur bangunan khas Bali. Palebahan pura yang paling timur adalah sthana Ida Bhatari Danu atau dikenal dengan Lingga Petak berupa Meru Tumpang Tiga, dimana di bawahnya terdapat batu berwarna merah putih dan hitam. Yang putih berukuran paling besar. Itulah sebabnya disebut Lingga Petak atau Lingga Putih.

Selanjutnya palebahan di sebelah baratnya berupa Meru Tumpang Sebelas sebagai sthana Ida Bhatara Pucak Mangu. Kedua palebahan ini sedikit terpisah dengan palebahan ketiga dan keempat yang berada di daratan. Palebahan ketiga yang paling luas adalah tempat banyak bangunan suci dengan pelinggih utama berupa Meru Tumpah Tujuh sthana Ida Bhatara Terate Bang. Di tempat ini juga ada Padmasri sebagai sthana Ida Bhatara Pucak Sangkur dan sebuah Padma Tiga sebagai sthana Tri Purusa. Palinggih yang lain adalah jajaran kamiri yang terdiri dari : Padmasana, Sanggah Kamulan Rong Tiga, Taksu Agung, Meru Tumpang Tiga, Gedong Manjangan Saluang, Gedong beratap pane, lima buah gedong lainnya, sejumlah balai yakni Bale Pasamuan Agung, Bale Paruman Alit, Bale Papelik, Bale Penyucian, Bale Gong dan Bale Kulkul. Sedangkan palebahan keempat berada di jabaan palebahan terbesar sebagai sthana Ida Bhatara Dalem Purwa.

b. Adat-istiadat

Upacara di Pucak Mangu dilakukan dua kali setahun. Pada Purnama Sasih Kapat dilakukan upacara piodalan baik di Pura Pucak Mangu maupun di Pura Penataran Tinggan. Sedangkan Purnama Sasih Kapitu dilakukan upacara Ngebekin di kedua pura tersebut. Upacara piodalan dan upacara ngebekin di Pura Pucak Mangu diselenggarakan oleh delapan kelompok pemaksan yaitu Tinggan, Plaga, Bukian, Kiadan, Nungnung, Semanik, Tiyingan dan Auman. Delapan pemaksan inilah yang membantu Puri Mengwi untuk melaksanakan kedua upacara pokok tersebut. Setiap mengadakan upacara silakukan biasanya diiringi dengan tari-tarian sakral seprti rejang dewa, Baris gede, wayang lemah.

c. Potensi Flora

Pura Pucak mangu terletak di kawasan pegunungan hutan lindung yang kelestariannya masih bisa di pertahankan. Pura ini terletak di kawasan puncak dengan ketinggiam 2.020 meter di atas permukaan laut. Kesuburan dan kandungan hidrologi dari struktur geologi menentukan jenis flora yang tumbuh di kawasannya sebagai habitat sesuai dengan keperlaun hidupnya. Adapun pohon-pohon yang masih dipertahankan terutama di jalur lintasan setapak dan dijadikan taman hutan wisata adalah sebagai berikut seprti anggrek, talas sembung, tedted, paku jukut (sayur), buyung-buyung, uyah-uyah, layah bebek dan berbagai jenis tumbuhan jalar dan juga tumbuhan lekat dari pohon tinggi termasuk tanaman kopi, cengkeh, mangga dan tumbuhan buah-buahan lainnya.

b. Potensi Fauna
Pura Pucak Mangu juga melindungi beberapa fauna langka yang masih bisa bertahan sampai sekarang diantaranya keker kiuh, kurkurtekukur, punaan, titiran, perit bondol, belatuk, becica sesapi, lubak, bukal dan semal

 

PROFIL POTENSI DESA PENGLIPURAN November 22, 2010

Filed under: Uncategorized — eddysoemarna @ 5:17 pm

Desa Tradisional Penglipuran memiliki potensi budaya yang sampai saat ini tetap terpelihara dengan baik. Potensi paling unik yang dimiliki adalah pola tata ruang dan arsitektur bangunan tradisional Bali khas Penglipuran. Pola tata ruang simetris dengan open space linier di tengah disertai pintu gerbang (angkul-angkul) seragam serta tata letak bangunannya merupakan pemandangan suasana pedesaan yang sangat unik, khas dan menarik untuk dinikmati. Adat istiadat yang menyertainya juga cukup unik dan beberapa hal berbeda dengan kebanyakan adat pedesaan di Bali.

Di Penglipuran juga terdapat hutan bambu seluas 75 hektar yang merupakan bahan baku bangunan rumah tradisional Penglipuran sekaligus bahan baku kerajinan. Didukung adanya lab dan workshop bambu, penglipuran berpotensi menjadi pusat studi dan museum hidup bambu. Potensi lain yang dimiliki adalah pemandangan jurang, sungai, terasering sawah dan desa tradisional lainnya yang berjarak sekitar 500 meter sebelah barat Penglipuran.

GAMBARAN SITUASI DESA TRADISIONAL PENGLIPURAN

Umum
Desa Tradisional Penglipuran merupakan satu kesatuan dengan Desa Adat Penglipuran yang termasuk dalam wilayah administrasi Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli. Desa Tradisional Penglipuran terletak sekitar 5 Km utara Kota Bangli atau sekitar 1,5 jam perjalanan dari Bandara Ngurah Rai, ± 60 km dari Kota Denpasar, dengan ketinggian antara 500 – 600 meter di atas permukaan laut.

Luas Desa Tradisional Penglipuran 112 ha, terdiri dari pekarangan 5,5 ha, hutan bambu 75 ha, hutan vegetasi lainnya 10 ha dan lahan pertanian 21,5.
Secara historis ada dua pendapat tentang pengertian Penglipuran :

 Pangeling Pura artinya ingat pada leluhur, dalam hal ini leluhur Penglipuran berasal dari Desa Tradisional Bayung Gede, Kintamani.
 Penglipur artinya menghibur dimana pada jaman dulu para raja sering menggunakan daerah ini sebagai tempat untuk menghibur diri atau mencari ketenangan.

Potensi Desa Adat Penglipuran mengacu pada Konsepsi Tri Hita Karana yaitu tiga sebab sebagai sumber adanya keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan yaitu : hubungan harmonis manusia dengan Tuhan, antara sesama manusia dan manusia dengan lingkungannya yang diimplementasikan wujudnya menjadi :

 Parhyangan, merupakan unit lokasi kawasan suci dan tempat suci (pura) tertentu besar maupun kecil sebagai pengejawantahan unsur ke-Tuhanan-nya.
 Pawongan, berarti masyarakat penghuni kawasan beserta keorganisasian tradisional yang ada sebagai perwujudan unsur manusianya (penghuninya).
 Palemahan, bermakna wilayah dalam batas-batas definitif beserta unsur perumahan, pekarangan, lingkungan sebagai wujud proyeksi unsur alamnya.

Pola Tata Ruang dan Tata Bangunan
Desa Tradisional Penglipuran memiliki potensi budaya yang sampai saat ini tetap terpelihara dengan baik. Potensi paling unik yang dimiliki adalah Pola Tata Ruang dan Arsitektur Bangunan Tradisional Bali Khas Penglipuran sehingga disebut sebagai Desa Tradisional Penglipuran.

Pola penataan ruang dan tata letak bangunan tradisional di Penglipuran menggunakan Pola Dasar Nawa Sanga, yaitu penggabungan orientasi antara gunung dan laut serta terhadap peredaran matahari. Ciri yang menonjol adalah As Utara Selatan (kaje kelod dengan axis linier). Axis linier ini juga berfungsi sebagai open space untuk kegiatan bersama. Open space ini berorientasi ke arah kaja kelod dan membagi desa menjadi dua bagian. Openpsace Desa Tradisional penglipuran menanjak menuju ke arah gunung (utara) dimana terdapat bangunan suci dengan orientasi ke Gunung Batur.
Pola tata ruang dan tata letak bangunan rumah di Desa Adat Penglipuran pada umumnya mengikuti Pola Tri Mandala yaitu :

 Utama Mandala, pada arah Kaje Sistem Desa merupakan tempat paling suci sehingga terdapat pura dan bangunan suci dan dalam Sistem Persil Rumah berupa sanggah (persembahyangan keluarga).
 Madya Mandala, pada bagian tengah Sistem Desa berupa areal perumahan dan kegiatan usaha dan pada sistem Persil Rumah pekarangan rumah digunakan sebagai bangunan tempat tinggal, dapur (paon), Bale Seke Enem, Loji, Lumbung dan bangunan lainnya yang dipandang perlu.
 Nista Mandala, pada arah Kelod Sistem Desa adalah tempat yang kotor seperti kuburan dan dalam Sistem Persil Rumah terletak kamar mandi/wc, kandang ternak, tempat kayu bakar dan lain-lain.

Sosial Kemasyarakatan
Aturan-aturan desa adat (awig-awig) diyakini sebagai nilai-nilai luhur yang secara turun temurun diterima dan dilaksanakan dengan konsekuen. Desa Adat Penglipuran dipimpin oleh seorang Kelian adat dan paruman Adat merupakan lembaga tertinggi pengambil keputusan. Jumlah penduduk Desa Adat Penglipuran pada tahun 2004 adalah 868 orang dengan jumlah KK 194. Mata pencaharian penduduk sebagian besar petani dan sebagian lainnya pegawai negeri dan pengrajin.

Segala aktivitas kemasyarakatan di Desa Penglipuran merupakan bagian dari awig-awig yang telah ditetapkan paruman adat. Sebagai contoh di Penglipuran terdapat se-petak karang yang disebut Karang Memadu, yaitu karang yang dipruntukkan bagi warga yang terkena sanksi awig-awig karena beristri lebih dari satu, dan sampai saat ini terus ditaati. Kemudian pengelolaan kunjungan wisatawan (karcis masuk) merupakan kerjasama antara desa adat dengan Pemerintah Kabupaten Bangli.
Di bidang kesenian, terdapat seni tari yang hanya dipentaskan pada hari-hari tertentu yang berkaitan dengan adat seperti Tari Sanghyang, tari Baris massal dan tari barong Ngunying. Kesenian Gong Kebyar dan tari Legong serta Joged Bumbung (musiknya dari bambu) juga ada yang dapat dipentaskan sewaktu-waktu.

Potensi Lingkungan

Terdapat hutan bambu seluas 75 ha yang terdiri dari berbagai jenis bambu yang ada di Bali seperti bambu petung, jajang, tali dan lain-lain yang merupakan bahan bangunan khas Penglipuran dan bahan baku kerajinan. Untuk menikmati hutan bambu ini telah dibuatkan jalan setapak. Pengelolaan bambu di Desa Penglipuran telah diatur dalam awig-awig, bahwa siapa saja yang akan menebang bambu harus meminta ijin kelian adat.

Disekitar hutan bambu tersebut juga terdapat laboratorium dan workshop bambu yang sayang sekali aktivitasnya sementara berhenti, namun fasilitasnya masih utuh. Potensi lainnya adalah hutan vegetasi, kebun salak, kebun jeruk serta pemandangan sawah terasering dan sungai.
Adanya pura-pura yang tergolong peninggalan kuno dengan kelengkapan, letak serta bahan bangunan yang terjaga keasliannya. Adanya Tugu Pahlawan yang mempunyai nilai historis, karena pada tahun 1947 di lingkungan tersebut beberapa pahlawan daerah gugur dalam peperangan melawan NICA. Tugu Pahlawan ini mempunyai bentuk tugu susun sembilan dengan arsitektur bali. Tugu ini dilengkapi dengan tempat parkir, tempat upacara dan Gedung Cura Yudha.

 

PARIWISATA BERKELANJUTAN DAN MASALAHNYA – DI INDONESIA November 15, 2010

Filed under: Uncategorized — eddysoemarna @ 6:07 pm

Sangat dipercaya bahwa ada banyak manfaat ekonomi dari pengembangan pariwisata, dan ada juga ketidak-raguan bahwa Indonesia mempunyai potensi tinggi dalam hal sumber daya pariwisata. Setidaknya memiliki ribuan pulau dan jutaan hektar hutan tropis yang sangat tinggi keaneka-ragaman hayatinya sebagai potensi wisata alam daerah tropis. Ratusan kelompok etnis dan budaya mereka juga dapat dianggap sebagai potensi pariwisata yang luar biasa.

Namun, ada beberapa pertanyaan dasar yang tentunya perlu dijawab.
Pertama: “Bagaimana seharusnya sumber daya itu digunakan didasarkan azas berkelanjutan?” Meskipun pertanyaan di atas tampaknya sangat sederhana, jawabannya tidak demikian. Tanpa pengetahuan yang mendalam tentang sumber daya pariwisata, akan sulit untuk menentukan potensi budaya dan sumber daya alam untuk pariwisata, potensi pasar, dan kualitas sumber daya manusia yang diperlukan untuk merencanakan dan untuk menjalankan pembangunan.

Pertanyaan mendasar yang kedua, yang memerlukan beberapa solusi, adalah: “Bagaimana konsep pembangunan pariwisata yang berkelanjutan bisa diterapkan ke dalam proses pembangunan lain yang sedang berlangsung”. Ini bukan tugas yang mudah untuk memperkenalkan konsep lisan sekte baru ke dalam proses pembangunan yang berlangsung, yang meliputi banyak aspek lain. Secara umum, strategi pengenalan akan selalu membutuhkan evaluasi proses pembangunan yang ada. Keberhasilan atau kegagalan pengembangan juga akan ditentukan oleh perencanaan yang hati-hati dan tepat yang mengikuti orientasi yang jelas dengan langkah-langkah pembangunan yang terkait.
Ketiga: “Bagaimana mengubah persepsi, sikap dan motivasi stakeholder (pemangku kepentingan) untuk berbuat sesuai dengan arah dan kriteria baru untuk pengembangan pariwisata “. Ini jelas juga memerlukan pengetahuan khusus, tetapi diperlukan untuk mencapai hargapenjualan yang tinggi untuk produk-produk pariwisata. Persoalan mendasar ini akan menjadi lebih gawat untuk pemerintah daerah mana pun.

Dengan berbagai keterbatasan penting seperti modal dan sumber daya manusia, pemerintah setempat tidak dapat memecahkan berbagai masalah krusial hanya melalui euforia otonomi. Salah satu hambatan penting adalah eksploitasi yang wajar sumber daya alam (termasuk sumber daya pariwisata), yang dipromosikan hanya untuk membiayai pembangunan program jangka pendek. Dengan pikiran pertimbangan ini, maka dianggap perlu untuk melakukan studi perencanaan pariwisata berkelanjutan di Indonesia terutama di tingkat lokal daerah otonom.

Faktor lain yang mudah menjadi kendala utama bagi Indonesia adalah terbatasnya pendanaan. Untuk mengembalikan tujuan pariwisata massal semula, pemerintah perlu bekerja keras untuk mengumpulkan dana dari berbagai tingkatan pengusaha pariwisata yang tengah mencoba bertahan hidup dengan merosotnya jumlah turis di pasca tujuan pariwisata massal mereka. Di sisi lain, pembangunan destinasi yang baru di beberapa daerah juga membutuhkan dana besar untuk mampu memenuhi berbagai persyaratan dan kriteria yang ada seperti untuk melakukan penilaian dampak lingkungan (AMDAL) atau pengolahan air, dll. Jika semua biaya dihitung dalam investasi, maka harga produk akan cenderung terlalu mahal dan hanya akan terjangkau oleh konsumen eksklusif tertentu. Sementara itu, eksklusifisme, bertentangan dengan kriteria paradigma baru pendekatan pembangunan partisipatif; yang juga menjadi kriteria penting terhadap keberlanjutan.

Hambatan terbatasnya dana sangat krusial di Indonesia. Di satu sisi,
benar-benar berharap untuk memiliki manfaat ekonomi dari pariwisata, di sisi lain, Indonesia pada umumnya harus membiayai berbagai persyaratan dan kriteria keberlanjutan.
Investor internasional adalah salah satu peluang yang diimpikan Indonesia untuk meraihnya. Namun, investasi internasional akan selalu berakhir dengan kehilangan modal (capital-loss) atau pelarian modal (capital-flight), yang merupakan suatu ciri dalam situasi ekonomi dan politik tertentu. Memperhatikan semua rintangan di atas, ada satu pertanyaan untuk dijawab: “Apa yang harus dan bisa dilakukan Indonesia agar mampu membiayai pengembangan pariwisata berkelanjutan untuk memperoleh manfaat yang optimal”. Salah satu kemungkinan jawaban untuk pertanyaan itu adalah dengan “mengembangkan perencanaan yang baik melalui pemerintahan yang baik “.