Eddy Sumarna Blog

Artikel Pariwisata

EKOWISATA di DESA ADAT NEGARI November 2, 2010

Filed under: Uncategorized — eddysoemarna @ 5:15 am

Berdasarkan laporan yang dikeluarkan World Tourism Organization (WTO), menunjukkan adanya beberapa kecenderunga dan perkembangan baru dalam dunia kepariwisataan yang mulai muncul pada tahun 1990-an. Dengan adanya kecenderungan masyarakat global, regional dan nasional untuk kembali ke alam (back to nature), maka minat masyarakat untuk berwisata ke tempat-tempat yang masih alami semakin besar. Adanya minat tersebut merupakan faktor pendorong bagi dikembangkannya pariwisata yang berorientasi pada lingkungan alam atau yang kita kenal sebagai ekoturisme atau Wisata Ekologi. Kenyataan tersebut merupakan antitesa dari kegiatan pariwisata yang berkembang selama ini yang lebih bercorak pariwisata massa (mass tourisme).

Pariwisata massa memberikan ruang yang besar pada masuknya modal yang intensif ke dalam suatu daerah wisata dan cenderung melemahkan partisipasi masyarakat lokal. Sedangkan ekoturisme mempunyai arti dan komitmen yang lebih jelas terhadap kelestarian alam dan pengembangan masyarakat, di samping aspek ekonomi. Ekowisata mengandung perspektif dan dimensi yang baik serta merupakan wajah masa depan pariwisata berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Kecenderungan ini ditandai oleh berkembangnya gaya hidup dan kesadaran baru akan penghargaan yang lebih dalam terhadap nilai-nilai hubungan antar manusia maupun dengan lingkungan alamnya. Perkembangan baru tersebut secara khusus ditujukkan melalui bentuk-bentuk keterlibatan wisatawan dalam kegiatan-kegiatan diluar/lapangan (out-door), kepedulian akan permasalahan ekologi dan kelestarian, kemajuan ilmu pengetahuan dan pendidikan, serta penekanan dan penghargaan akan nilai-nilai estetika. Kesadaran mengenai fenomena-fenomena tersebut di atas mendorong pemerintah untuk mencari bentuk baru bagi pengembangan produk wisata yang mampu menjawab tantangan yang ada , yaitu bahwa pengembangan produk wisata untuk waktu-waktu yang akan datang harus berorientasi pada nilai-nilai pelestarian lingkungan dan budaya masyarakat, pengembangan masyarakat lokal ( community based tourism), termasuk di dalamnya memberi nilai manfaat yang besar bagi masyarakat serta keuntungan/orientasi jangka panjang.

Selama ini pengukuran keberhasilan sektor pariwisata seringkali hanya disandarkan pada besarnya perolehan devisa negara dalam rentang waktu tertentu dalam sektor tersebut atau seberapa besar jumlah pembangunan hotel dengan berbagai tingkatannya, perluasan jumlah lapangan golf dan taman rekreasi, serta besarnya angka kunjungan wisatawan setiap tahunnya, terutama wisatawan mancanegara.

Merujuk kembali gagasan utama pembangunan sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat banyak, dan menjadikan kehidupan mereka lebih baik, maka makna pada tingkatan praksis perlu ditafsirkan secara luas, dan bukan hanya bersifat ekonomis. Apakah kebijakan yang diambil mulai dari taraf perencanaan sampai operasionalisasi betul-betul telah memberikan manfaat bagi masyarakat secara keseluruhan, baik dalam dimensi sosial, ekonomi maupun budaya. Inilah salah satu hal terpenting yang perlu dikedepankan ketika membahas tentang industri pariwisata. Pariwisata hendaknya juga mampu mendorong masyarakat berpartisipasi secara aktif dalam pembangunan dalam rangka mencapai tujuan kesejahteraan yang diinginkan. Pendapat ini dikemukakan mengingat dalam kehidupan sosial di Indonesia kini penafsiran berbagai kegiatan didominasi oleh pandangan yang berorientasi pada pembangunan semata (development oriented). Sehingga tidak jarang pembangunan yang menekankan kepentingan masyarakat (people oriented) terlewatkan dan nilai-nilai kemanusiaan (humanism) terabaikan.

Kenyataan ini telah menumbuhkan kesadaran para pembuat kebijakan dan elemen-elemen kritis dalam masyarakat akan pentingnya pengembangan pembangunan pariwisata yang berorientasi pada kelestarian lingkungan (ecologist) dan berbasis pada kemampuan masyarakat lokal. Pergeseran orientasi ini dilatarbelakangi oleh adanya kesadaran bahwa pengembangan kepariwisataan perlu disesuaikan dengan konteks pembangunan pada masa sekarang ini, yang harus dikaitkan dengan isu lingkungan, pemberdayaan masyarakat lokal serta pembangunan yang berorientasi jangka panjang dan berkelanjutan menjadi isu pokok yang harus mendasari arah pembangunan pada berbagai sektor, termasuk di dalamnya sektor pariwisata.

Kecenderungan ini ditandai oleh berkembangnya gaya hidup dan kesadaran baru akan penghargaan yang lebih dalam terhadap nilai-nilai hubungan antar manusia maupun dengan lingkungan alamnya. Perkembangan baru tersebut secara khusus ditujukkan melalui bentuk-bentuk keterlibatan wisatawan dalam kegiatan-kegiatan diluar/lapangan (out-door), kepedulian akan permasalahan ekologi dan kelestarian, kemajuan ilmu pengetahuan dan pendidikan, serta penekanan dan penghargaan akan nilai-nilai estetika. Kesadaran mengenai fenomena-fenomena tersebut di atas mendorong pemerintah untuk mencari bentuk baru bagi pengembangan produk wisata yang mampu menjawab tantangan yang ada , yaitu bahwa pengembangan produk wisata untuk waktu-waktu yang akan datang harus berorientasi pada nilai-nilai pelestarian lingkungan dan budaya masyarakat, pengembangan masyarakat lokal ( community based tourism), termasuk di dalamnya memberi nilai manfaat yang besar bagi masyarakat serta keuntungan/orientasi jangka panjang.

Di samping faktor di atas, pengembangan ekowisata di Indonesia memiliki prospek yang baik karena didukung oleh potensi keanekaragaman hayati – termasuk di dalamnya keanekaragaman budaya—merupakan modal dasar bagi pengembangan ekowisata. Seluruh dunia pun telah sepakat dan mengakui bahwa Indonesia adalah negara yang pantas menyandang julukan megabiodiversity, karena keanekaragaman suku, adat, istiadat, budaya, bahasa, ekosostem, spesies flora dan fauna. Keanekaragaman tersebut memiliki pesona yang dapat dinikmati wisatawan dari seluruh penjuru dunia.

Propinsi Bali sebagai daerah tujuan utama kunjungan wisata di Indonesia juga tidak bisa lepas dari pengaruh tersebut. Dalam perkembangan terakhir, seiring dengan era reformasi, desakan dari berbagai pihak agar pemerintah daerah merubah kebijakan pembangunan di bidang pariwisata semakin meluas. Kebijakan pariwisata selama ini yang hanya berorientasi pada jumlah kunjungan wisatawan (mass tourism) dinilai telah mengancam kelestarian lingkungan Bali, baik lingkungan fisik maupun budaya. Hal ini terlihat dari kasus-kasus yang muncul ke permukaan selama ini, seperti kasus pembangunan Bakrie Nirwana Resort (BNR) di Tabanan yang telah mencemari kesucian pura Tanah Lot., kasus reklamasi pulau Serangan oleh Bali Turtle Invironment Development (BTID), kasus Lapangan Golf Selasih, Payangan, dan berbagai kasus lainnya.

Sampai terjadinya tragedi kemanusiaan Bom Kuta-Legian, pada 12 November 2002, yang menjadi titik balik dari perjalanan dunia pariwisata Bali. Kejadian ini memberi kesempatan bagi stake holders pariwisata Bali untuk merefleksikan kembali pengembangan pariwisata selama ini yang terlampau kapitalistik, massif, serta mengabaikan kepentingan-kepentingan masyarakat lokal. Saat itu mencuat issue-issue untuk mengembalikan pariwisata Bali ke arah semangatnya semula, yakni pariwisata budaya.

Diakui atau tidak motto pariwisata budaya yang selama ini dilekatkan pada kepariwisataan Bali hanya sekedar jargon. Dalam kenyataannya pariwisata bali telah berdampak pada peminggiran penduduk lokal, pembebasan tanah secara paksa untuk pembangunan hotel dan lapangan golf, dan kerusakan ekosistem darat, sungai, dan laut telah menjadi fakta sehari-hari.. Singkatnya mass tourism yang selama ini diterapkan lebih banyak berdampak negatif daripada positif.

Dalam pengembangan ekowisata di Indonesia pada umumnya dan di Bali pada khususnya, hal yang penting yang perlu diperhatikan adalah keikutsertaan masyarakat setempat dalam setiap kegiatan kepariwisataan. Konsep pengembangan ekowisata yang melibatkan atau mendasarkan kepada peran serta masyarakat (community- based ecoturism) pada dasarnya adalah memberikan kesempatan kepada masyarakat yang tinggal di daerah-daerah yang menjadi obyek dan daya tarik ekowisata untuk mengelola jasa-jasa pelayanan bagi wisatawan seperti penginapan, pemandu wisata, penyediaan cindera mata khas yang berasal dari budaya dan flora-fauna setempat, dan lain-lain.

Proyek yang dirancang oleh PRAshanti ini berkisar di sekitar isue-isue ekowisata di atas. Namun dalam proyek ini, sasaran diarahkan kepada pembuatan model desa ekowisata di tingkat grass root dengan mengambil skala desa pakraman. Pemilihan skala pada level desa pakraman karena keberadaan desa pakraman sebagai entitas lokal tradisional terkecil di Bali yang mengandung aspek space/ruang, budaya, serta warga yang menghidupi ruang budaya tersebut. Konsep tersebut dalam khasanah Bali dikenal dengan istilah Tri Hita Karana, yakni Parahyangan, Pawongan, serta Palemahan. Dengan alasan tadi, akhirnya dipilih desa pakraman yang akan dijadikan model adalah desa pakraman Negari, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Propinsi Bali.

TUJUAN
Terciptanya sebuah model desa ekowisata, yang dicirikan oleh : Terbangunnya sistem prasarana fisik (balai informasi, model konservasi DAS, pengelolaan sampah, dan sanitasi desa), Tertatanya obyek-obyek ekowisata yang terdiri dari ekowisata Subak; ekowisata DAS Sungai Oos, Ekowisata Budaya, Ekowisata Sosial(Pemukiman, Pasar, Sekolah), Ekowisata Purbakala, Terbentuknya keberdayaan masyarakat pendukung sebagai pengelola ekowisata.

>

LOKASI
Lokasi proyek ini adalah Desa Pakraman Negari, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali.

Alasan pemilihan lokasi ini, adalah sbb :

Memiliki obyek-obyek ekowisata yang unik, seperti pura Kahyangan Tiga yang dihiasi ornamen ukiran Bali kuno, adanya situs purbakala Kebo Iwa, habitat seniman tari arja generasi pertama Bali, habitat seniman ukiran kayu dan padas, habitat seniman undagi(tukang bangunan tradisional Bali), aliran sungai Oos, serta hamparan sawah Subak yang termasuk 5 besar terluas di Bali.

Memiliki aksesibilitas yang baik, yakni berada pada jalur pariwisata utama; Bandara Ngurah Rai- Sanur- Ubud- Kintamani. (hanya 15 km dari kota Denpasar, 19 km dari pantai Sanur, serta 9 km dari Ubud). Merupakan desa agraris, mayoritas penduduk hidup dari pertanian.

SASARAN
a. Kelompok petani,
b. Perangkat desa pakraman,
c. Kelompok perempuan,
d. Kelompok pemuda,
e. Kelompok pengerajin,
f. Kelompok seniman ukiran.

5. KEGIATAN
Need assessment; bertujuan untuk mengetahui tingkat kebutuhan masyarakat desa pakraman Negari tentang pentingnya dikembangkan ekoturisme bernuansa lingkungan dan budaya di desa Negari.

AMDAL , ( Aspek Lingkungan, Aspek Budaya, Aspek Sosial )

Sosialisasi awal; dimaksudkan agar masyarakat mengetahui projek yang akan diselenggarakan didesa Negari, sehinga dapat ikut berpartisipasi secara maksimal.

Pengorganisasian Masyarakat ( Sangkep Desa Negari, Sangkep sosialisasi dengan desa tetangga (Belaluan, Mawang, Silakarang, Kederi, dan Kutri) Desa Negari, Pelatihan ToT (Trainning on Trainner) Desa Negari )

Pembuatan Peta Desa Negari
Sosialisasi ke masyarakat
Pertemuan tim ahli dengan tokoh-tokoh masyarakat,
Pengumpulan data (2 bulan)
Updating data/digitalisasi
Sosialisasi peta ke warga desa dan prajuru desa tetangga

Pembangunan Sarana Sanitasi Desa
Pembangunan TPA sampah dan pengolahan limbah desa,
Pembangunan WC bagi warga yang belum memiliki WC
Penyenderan selokan gang/jalan umum,
Penataan telajakan

Pembangunan Infrastruktur Ekowisata
Pembangunan balai wisata (Pusat Informasi Ekowisata Desa)
Pembangunan Jalur Trekking
Pembangunan balai-balai peristirahatan pada titik-titik stop-over,
Pengadaan perahu karet arung jeram,
Pembangunan Gedung Informasi Subak

Penyiapan Obyek-obyek Kunjungan (Paket-paket wisata).
Penataan Pura-pura Desa
Penataan Situs Purbakala Kebo Iwa,
Penataan Kawasan Persawahan,
Penataan Permukiman Krama,
Penataan Pasar Desa,
Penataan Sekolah Desa (SD, TK)
Penyiapan Kelompok Kesenian (Tari, Gambelan)

Konservasi DAS Oos
Survey Kebutuhan
Pembangunan Senderan
Penghijauan Sempadan Sungai
Penyadaran Masyarakat (community awarennes)
Perumusan Pararem tentang Konservasi Sungai

Pelatihan Ekowisata
Pelatihan Guide Lokal
Pelatihan Pengelolaan Bungalow
Pelatihan Food & Beverage
Pelatihan Budaya Bali
Pelatihan CO (Community Organizer)

<img src="https://eddysoemarna.files.wordpress.com/2010/11/dscn67782.jpg" alt="" title="DSCN6778" width="640" height="480" class="alignnone size-full wp-image-47" /

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s