Eddy Sumarna Blog

Artikel Pariwisata

PROFIL POTENSI DESA PENGLIPURAN November 22, 2010

Filed under: Uncategorized — eddysoemarna @ 5:17 pm

Desa Tradisional Penglipuran memiliki potensi budaya yang sampai saat ini tetap terpelihara dengan baik. Potensi paling unik yang dimiliki adalah pola tata ruang dan arsitektur bangunan tradisional Bali khas Penglipuran. Pola tata ruang simetris dengan open space linier di tengah disertai pintu gerbang (angkul-angkul) seragam serta tata letak bangunannya merupakan pemandangan suasana pedesaan yang sangat unik, khas dan menarik untuk dinikmati. Adat istiadat yang menyertainya juga cukup unik dan beberapa hal berbeda dengan kebanyakan adat pedesaan di Bali.

Di Penglipuran juga terdapat hutan bambu seluas 75 hektar yang merupakan bahan baku bangunan rumah tradisional Penglipuran sekaligus bahan baku kerajinan. Didukung adanya lab dan workshop bambu, penglipuran berpotensi menjadi pusat studi dan museum hidup bambu. Potensi lain yang dimiliki adalah pemandangan jurang, sungai, terasering sawah dan desa tradisional lainnya yang berjarak sekitar 500 meter sebelah barat Penglipuran.

GAMBARAN SITUASI DESA TRADISIONAL PENGLIPURAN

Umum
Desa Tradisional Penglipuran merupakan satu kesatuan dengan Desa Adat Penglipuran yang termasuk dalam wilayah administrasi Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli. Desa Tradisional Penglipuran terletak sekitar 5 Km utara Kota Bangli atau sekitar 1,5 jam perjalanan dari Bandara Ngurah Rai, ± 60 km dari Kota Denpasar, dengan ketinggian antara 500 – 600 meter di atas permukaan laut.

Luas Desa Tradisional Penglipuran 112 ha, terdiri dari pekarangan 5,5 ha, hutan bambu 75 ha, hutan vegetasi lainnya 10 ha dan lahan pertanian 21,5.
Secara historis ada dua pendapat tentang pengertian Penglipuran :

 Pangeling Pura artinya ingat pada leluhur, dalam hal ini leluhur Penglipuran berasal dari Desa Tradisional Bayung Gede, Kintamani.
 Penglipur artinya menghibur dimana pada jaman dulu para raja sering menggunakan daerah ini sebagai tempat untuk menghibur diri atau mencari ketenangan.

Potensi Desa Adat Penglipuran mengacu pada Konsepsi Tri Hita Karana yaitu tiga sebab sebagai sumber adanya keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan yaitu : hubungan harmonis manusia dengan Tuhan, antara sesama manusia dan manusia dengan lingkungannya yang diimplementasikan wujudnya menjadi :

 Parhyangan, merupakan unit lokasi kawasan suci dan tempat suci (pura) tertentu besar maupun kecil sebagai pengejawantahan unsur ke-Tuhanan-nya.
 Pawongan, berarti masyarakat penghuni kawasan beserta keorganisasian tradisional yang ada sebagai perwujudan unsur manusianya (penghuninya).
 Palemahan, bermakna wilayah dalam batas-batas definitif beserta unsur perumahan, pekarangan, lingkungan sebagai wujud proyeksi unsur alamnya.

Pola Tata Ruang dan Tata Bangunan
Desa Tradisional Penglipuran memiliki potensi budaya yang sampai saat ini tetap terpelihara dengan baik. Potensi paling unik yang dimiliki adalah Pola Tata Ruang dan Arsitektur Bangunan Tradisional Bali Khas Penglipuran sehingga disebut sebagai Desa Tradisional Penglipuran.

Pola penataan ruang dan tata letak bangunan tradisional di Penglipuran menggunakan Pola Dasar Nawa Sanga, yaitu penggabungan orientasi antara gunung dan laut serta terhadap peredaran matahari. Ciri yang menonjol adalah As Utara Selatan (kaje kelod dengan axis linier). Axis linier ini juga berfungsi sebagai open space untuk kegiatan bersama. Open space ini berorientasi ke arah kaja kelod dan membagi desa menjadi dua bagian. Openpsace Desa Tradisional penglipuran menanjak menuju ke arah gunung (utara) dimana terdapat bangunan suci dengan orientasi ke Gunung Batur.
Pola tata ruang dan tata letak bangunan rumah di Desa Adat Penglipuran pada umumnya mengikuti Pola Tri Mandala yaitu :

 Utama Mandala, pada arah Kaje Sistem Desa merupakan tempat paling suci sehingga terdapat pura dan bangunan suci dan dalam Sistem Persil Rumah berupa sanggah (persembahyangan keluarga).
 Madya Mandala, pada bagian tengah Sistem Desa berupa areal perumahan dan kegiatan usaha dan pada sistem Persil Rumah pekarangan rumah digunakan sebagai bangunan tempat tinggal, dapur (paon), Bale Seke Enem, Loji, Lumbung dan bangunan lainnya yang dipandang perlu.
 Nista Mandala, pada arah Kelod Sistem Desa adalah tempat yang kotor seperti kuburan dan dalam Sistem Persil Rumah terletak kamar mandi/wc, kandang ternak, tempat kayu bakar dan lain-lain.

Sosial Kemasyarakatan
Aturan-aturan desa adat (awig-awig) diyakini sebagai nilai-nilai luhur yang secara turun temurun diterima dan dilaksanakan dengan konsekuen. Desa Adat Penglipuran dipimpin oleh seorang Kelian adat dan paruman Adat merupakan lembaga tertinggi pengambil keputusan. Jumlah penduduk Desa Adat Penglipuran pada tahun 2004 adalah 868 orang dengan jumlah KK 194. Mata pencaharian penduduk sebagian besar petani dan sebagian lainnya pegawai negeri dan pengrajin.

Segala aktivitas kemasyarakatan di Desa Penglipuran merupakan bagian dari awig-awig yang telah ditetapkan paruman adat. Sebagai contoh di Penglipuran terdapat se-petak karang yang disebut Karang Memadu, yaitu karang yang dipruntukkan bagi warga yang terkena sanksi awig-awig karena beristri lebih dari satu, dan sampai saat ini terus ditaati. Kemudian pengelolaan kunjungan wisatawan (karcis masuk) merupakan kerjasama antara desa adat dengan Pemerintah Kabupaten Bangli.
Di bidang kesenian, terdapat seni tari yang hanya dipentaskan pada hari-hari tertentu yang berkaitan dengan adat seperti Tari Sanghyang, tari Baris massal dan tari barong Ngunying. Kesenian Gong Kebyar dan tari Legong serta Joged Bumbung (musiknya dari bambu) juga ada yang dapat dipentaskan sewaktu-waktu.

Potensi Lingkungan

Terdapat hutan bambu seluas 75 ha yang terdiri dari berbagai jenis bambu yang ada di Bali seperti bambu petung, jajang, tali dan lain-lain yang merupakan bahan bangunan khas Penglipuran dan bahan baku kerajinan. Untuk menikmati hutan bambu ini telah dibuatkan jalan setapak. Pengelolaan bambu di Desa Penglipuran telah diatur dalam awig-awig, bahwa siapa saja yang akan menebang bambu harus meminta ijin kelian adat.

Disekitar hutan bambu tersebut juga terdapat laboratorium dan workshop bambu yang sayang sekali aktivitasnya sementara berhenti, namun fasilitasnya masih utuh. Potensi lainnya adalah hutan vegetasi, kebun salak, kebun jeruk serta pemandangan sawah terasering dan sungai.
Adanya pura-pura yang tergolong peninggalan kuno dengan kelengkapan, letak serta bahan bangunan yang terjaga keasliannya. Adanya Tugu Pahlawan yang mempunyai nilai historis, karena pada tahun 1947 di lingkungan tersebut beberapa pahlawan daerah gugur dalam peperangan melawan NICA. Tugu Pahlawan ini mempunyai bentuk tugu susun sembilan dengan arsitektur bali. Tugu ini dilengkapi dengan tempat parkir, tempat upacara dan Gedung Cura Yudha.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s